Perancangan Villa Resort di Pantai Utara Pulau Ohoieuw Kabupaten Maluku Tenggara (Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular)

  • Universitas Musamus Merauke
  • Universitas Musamus Merauke
  • Universitas Musamus Merauke
Keywords: Villa Resort; Pulau Ohoieuw; Neo Vernakular

Abstract

Kabupaten Maluku Tenggara mempunyai akar budaya dan adat istiadat yaitu filosofi adat hukum Larvul Ngabal. Nilai-nilai yang terkandung di dalam hukum Larvul Ngabal mampu memelihara ketertiban dan hubungan keakraban antar penduduk, menanamkan rasa gotong royong ( Budaya Maren), serta memupuk kesadaran masyarakat untuk menjaga keharmonisan alam melalui system “Hawear” yang mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam secara bijak & berkelanjutan.Villa Resort merupakan sebuah fasilitas tempat tinggal sementara yang terletak di daerah yang berhawa sejuk, misalnya seperti di pegunungan, pinggiran kota, ditepi pantai dan dipulau. Perancangan villa resort ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif dengan proses pengumpulan data berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil observasi atau pengamatan langsung ke lokasi penelitian dan data sekunder diperoleh melalui studi pustaka berupa buku, jurnal, laporan, dan studi literatur proyek sejenis yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan jenis kegiatan dan ruang-ruang.

References

B. K. M. Tenggara, “KABUPATEN MALUKU TENGGARA TAHUN 2008 – 2028 BUKU RENCANA KABUPATEN MALUKU TENGGARA,” 2008.
[2] BPS Maluku Tenggara 2020, KabupatenKabupaten MALUKU TENGGARA DALAM ANGKA. 2002.
[3] G. Goldra and L. Prayogi, “Konsep Arsitektur Neo Vernakular pada Bandar Udara Soekarno Hatta dan Bandar Udara Juanda,” J. LINEARS, vol. 4, 2021.
[4] A. E. S.T.H., S. H. Laksono, and W. W. Widjajanti, “Arsitektur Neo Vernakular sebagai Salah Satu Aspek Penunjang Pelestarian Kebudayaan Lamaholot,” Tekstur (Jurnal Arsitektur), vol. 1, no. 2, 2020, doi: 10.31284/j.tekstur.2020.v1i2.1152.
[5] “BOLAANG MONGONDOW CULTURAL CENTER. Arsitektur Neo Vernakular,” BOLAANG MONGONDOW Cult. CENTER. Arsit. Neo Vernakular, vol. 8, no. 1, 2019.
[4] C. Widi and L. Prayogi, “Penerapan Arsitektur Neo-Vernakular pada Bangunan Buday dan Hiburan,” J. Arsit. Zo., vol. 3, no. 3, 2020, doi: 10.17509/jaz.v3i3.23761.
[5] A. Wekabury and A. Tungka, “FASILITAS REKREASI PANTAI DI PULAU MANSINAM (ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR),” Daseng J. Arsit., vol. 5, no. 1, 2016.
[6] G. Suharjanto, “Membandingkan Istilah Arsitektur Tradisional Versus Arsitektur Vernakular: Studi Kasus Bangunan Minangkabau dan Bangunan Bali,” ComTech Comput. Math. Eng. Appl., vol. 2, no. 2, p. 592, 2011, doi: 10.21512/comtech.v2i2.2808.
[7] D. Untuk et al., “RESORT PANTAI DENGAN PENDEKATANARSITEKTUR VERNAKULER DI PULAU SEMBILAN KABUPATEN SINJAI ACUAN,” 2017.
[8] M. J. Renjaan, H. Purnaweni, and D. D. Anggoro, “STUDI KEARIFAN LOKAL SASI KELAPA PADA MASYARAKAT ADAT DI DESA NGILNGOF KABUPATEN MALUKU TENGGARA,” J. Ilmu Lingkung., vol. 12, no. 2, 2013, doi: 10.14710/jil.11.1.23-29.
[9] “Potensi Wilayah Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara 2019.”
[10] P. P. No.51, “Peraturan Presiden Republik Indonesia No.51 Tahun 2016 Tentang Batas Sempadan Pantai.” p. 21, 2016.
[11] E. Neufert, “Data Arsitek (terjemahan),” p. 278, 1997.
[12] J. Panero and M. Zelnik, Dimensi Manusia dan Ruang Interior : Buku Panduan untuk Standar Pedoman Perancangan / Julius Panero, Martin Zelnik. Penerbit Erlangga, 2003.
[13] “Data Arsitek Jl. 2 Ed. 33 - Google Books.” https://www.google.co.id/books/edition/Data_Arsitek_Jl_2_Ed_33/_wtaJXW_Fd0C?hl=id&gbpv=1&dq=er+nst+neufert+arsitektur&pg=PR7&printsec=frontcover (accessed Jan. 24, 2022).
[14] I. Haryadi, “Arsitektur, lingkungan, dan perilaku : pengantar ke teori, metodologi, dan aplikasi,” p. 157, 2010.
Published
2022-04-28