Characteristics of Kepok Banana Cultivation in Various Planting Systems in East Kalimantan
Abstrak
Pisang Kepok merupakan komoditas hortikultura penting yang banyak dibudidayakan di Kalimantan Timur karena memiliki daya adaptasi tinggi dan nilai ekonomi yang relatif stabil. Budidaya pisang Kepok di wilayah ini dilakukan dengan berbagai sistem tanam, baik monokultur maupun tumpangsari, yang berpotensi memengaruhi praktik budidaya dan tingkat produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik budidaya pisang Kepok pada berbagai sistem tanam di Kalimantan Timur, meliputi aspek penanaman, perawatan tanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta panen dan produksi. Penelitian dilaksanakan pada beberapa kabupaten dan kecamatan di Kalimantan Timur dengan metode survei dan observasi lapangan. Data dikumpulkan melalui wawancara petani dan pengamatan langsung terhadap praktik budidaya, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya pisang Kepok didominasi oleh penggunaan bibit anakan, dengan sebagian kecil petani telah memanfaatkan bibit kultur jaringan. Sistem tanam yang diterapkan bervariasi antara monokultur dan tumpangsari, terutama dengan kelapa sawit. Praktik perawatan tanaman masih bersifat konvensional, ditandai dengan penggunaan herbisida sebagai metode penyiangan utama dan pemupukan anorganik dengan dosis yang bervariasi. Penyakit layu Fusarium merupakan organisme pengganggu tanaman utama dengan tingkat keparahan ringan hingga sedang, sementara pengendalian penyakit dan hama masih belum terintegrasi secara optimal. Produksi pisang Kepok berkisar antara kurang dari 10 ton hingga 30 ton per hektar, dipengaruhi oleh sistem tanam, intensitas perawatan, dan kondisi agroekologi setempat. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya pisang Kepok di Kalimantan Timur masih berpotensi untuk ditingkatkan melalui penerapan teknologi budidaya yang lebih terstandar, penggunaan bibit sehat, pengelolaan hara berimbang, serta pengendalian hama dan penyakit secara terpadu guna mendukung peningkatan produktivitas dan keberlanjutan usaha tani pisang Kepok
Referensi
Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Timur. (2023). Provinsi Kalimantan Timur dalam angka 2023. Samarinda: BPS Provinsi Kalimantan Timur.
Dadang, Prijono, D., & Utomo, D. (2012). Hama Dan Penyakit Tanaman Hortikultura. Bogor: IPB Press.
Dita, M. A., Waalwijk, C., Buddenhagen, I. W., Souza Júnior, M. T., Kema, G. H. J., & Ploetz, R. C. (2018). Fusarium wilt of banana: Current knowledge on epidemiology and research needs toward sustainable disease management. Frontiers in Plant Science, 9, 1468. https://doi.org/10.3389/fpls.2018.01468
FAO. (2011). Guide to good hygiene practices for banana production. Rome: FAO.
FAO. (2021). Banana market review: Preliminary results 2020. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Harman, G. E., Doni, F., Khadka, R. B., & Uphoff, N. (2021). Endophytic strains of Trichoderma increase plants’ photosynthetic capability. Journal of Applied Microbiology, 130(2), 529–546. https://doi.org/10.1111/jam.14892
Isman, M. B. (2020). Botanical insecticides in the twenty-first century—Fulfilling their promise? Annual Review of Entomology, 65, 233–249. https://doi.org/10.1146/annurev-ento-011019-025010
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2019). Petunjuk teknis budidaya pisang. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian RI.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2022). Statistik hortikultura 2021. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian.
Pavela, R., & Benelli, G. (2016). Essential oils as ecofriendly biopesticides? Challenges and constraints. Trends in Plant Science, 21(12), 1000–1007.
Ploetz, R. C. (2015). Fusarium wilt of banana. Phytopathology, 105(12), 1512–1521. https://doi.org/10.1094/PHYTO-04-15-0101-RVW
Ploetz, R. C., Kema, G. H. J., & Ma, L. J. (2015). Impact of diseases on export and smallholder production of banana. Annual Review of Phytopathology, 53, 269–288.
Robinson, J. C., & Galán Saúco, V. (2010). Bananas and plantains (2nd ed.). Wallingford, UK: CABI Publishing. https://doi.org/10.1079/9781845936587.0000
Rukmana, R. (2005). Usaha tani pisang. Yogyakarta: Kanisius.
Simmonds, N. W., & Shepherd, K. (2019). The taxonomy and origins of the cultivated bananas. The Journal of the Linnean Society of London. Botany, 55(359), 302–312. https://doi.org/10.1111/j.1095-8339.1955.tb00015.x
Siregar, M. R., Lubis, A., & Hasibuan, R. (2021). Sistem tumpangsari pisang dan kelapa sawit terhadap pertumbuhan dan produktivitas pisang. Jurnal Agroekoteknologi Tropika, 10(2), 145–154.
Suryaningsih, N. L. S., Pamungkas, W. A., Jamaludin, J., & Witdarko, Y. (2025). Evaluation of quality characteristics of bitter melon (Momordica charantia L.) under different temperature and packaging conditions during storage. AGRICOLA, 15(2), 271-281.
Stover, R. H., & Simmonds, N. W. (1987). Bananas (3rd ed.). London: Longman Scientific & Technical.
Woo, S. L., Ruocco, M., Vinale, F., Nigro, M., Marra, R., Lombardi, N., Lorito, M. (2014). Trichoderma-based products and their widespread use in agriculture. The Open Mycology Journal, 8, 71–126.
Wulandari, N., Thamrin, N. T., & Hasanuddin, F. (2025). Population density of green planters (Nephotettix spp.) on rice plants (Oryza sativa L.) in Duampanua Village, Sidenreng Rappang Regency. AGRICOLA, 15(2), 282-288.
.png)













